28 Tahun Mengamati Aktivitas Gunung Merapi, Kisah Yulianto Jadi Garda Terdepan Informasi Bencana

(beritamagelang.com) Yulianto,49 petugas pengamat gunung merapi di Pos Babadan Dukun (foto :istimewa)

beritamagelang.com, DUKUN – Yulianto, seorang pria paruh baya berusia 49 tahun siap siaga memantau aktivitas Gunung Merapi 24 jam nonstop. Sudah puluhan tahun ia bertugas di Pos Babadan Dusun 2, Krinjing Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Tak ada rasa takut atau panik jika tiba-tiba gunung merapi yang berada 4,4 kilometer di depannya mengeluarkan isi perutnya. Tugasnya sebagai garda terdepan untuk menyampaikan informasi Gunung Merapi, sudah ia lakukan dengan ikhlas.

“Tepatnya sudah 28 tahun saya bertugas sebagai pengamat gunung api, sejak 1992. Sebelumnya, ada pelatihan khusus, diklat selama 6 bulan di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung,” terangnya saat ditemui Borobudurnews (28/7/2020).

Ia menceritakan, berbagai kejadian baik suka maupun duka sudah pernah ia alami. Semuanya ia lakukan ikhlas untuk bertugas dengan baik sebagai garda terdepan bencana alam.

“ya banyak kejadian, tapi saya sudah biasa, ini sudah menjadi pekerjaan saya dan saya ihklas,” ungkapnya.

Baca juga : Dua Pasien Covid-19 Baru dan Satu Pasien Suspek Meninggal di Magelang, ini Riwayatnya

Sementara dikutip dari esdm.go.id Yulianto menceritakan sudah menjadi kebanggan tersendiri sebagai Pengamat Gunung Api, bisa memberi informasi dan peringatan kepada warga sekitar sehingga tidak jatuh korban.

“Dari tahun 2000-an, kemudian 2001, 2006, dan yang terakhir agak berbeda di 2010 alhamdulillah bisa memberikan informasi yang didengar warga sekitar,” tuturnya bangga.

Dia mengaku seakan memanggul beban ketika bencana 2010 datang. Letak Pos Babadan berjarak sekitar 4,4 kilometer arah barat laut dari puncak Merapi.

Demi pengabdian terhadap pekerjaan, dirinya rela tinggal jauh dari keluarga untuk sementara. Keluarganya tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) – 2 di Desa Tlogolele, Selo, Kabupaten Boyolali.

“Saat masih remaja, saya sering diajak Bapak bertugas di Pos Pengamatan Babadan maupun di Pos Jrakah. Pas ada pembukaan sebagai Pengamat Gunung Api di tahun 1992 saya merasa itulah panggilan saya,” kenangnya.

Peristiwa letusan Merapi di tahun 2010 menjadi kenangan tersendiri buat Yulianto. Hewan-hewan turun dari gunung, banyak kera berkeliaran, tidak pernah menyangka akan meletus sehebat itu.

“Saat itu susah sekali untuk mendapat momen letusannya, saat itu hasil kamera hitam, alat-alat juga menjadi tak berfungsi di saat detik-detik letusan, setelahnya normal. Seakan Merapi tidak mau didokumentasikan saat ia meletus hebat,” pungkasnya.

1 thought on “28 Tahun Mengamati Aktivitas Gunung Merapi, Kisah Yulianto Jadi Garda Terdepan Informasi Bencana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: