Cerita Warga Dikarantina di Rumah Berhantu Karena Keluyuran

(beritamagelang) tampak dalam gedung angker untuk karantina warga Sragen (Sumber : Internet)

beritamagelang.com, NASIONAL— Sebanyak tiga orang warga Desa Sepat Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen, diisolasi di gedung khusus yang terkenal angker sejak sepekan lalu. Hal itu sebagai efek jera karena mereka ketahuan keluyuran saat masa karantina mandiri.

Kepala Desa Sepat Mulyono mengungkapkan gedung itu sudah dibersihkan para sukarelawan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Desa Sepat sejak dua bulan lalu. Namun baru diisi kamis (16/4/2020) lalu . Dalam gedung sebelah utara dipasang enam sekat tirai namun hanya tiga ruang yang ada tempat tidurnya. Antar tempat tidur diberi jarak 1,5 meter.

”Itu karena ada pemudik yang memandel sehingga  harus diisolasi di gedung angker tersebut selama 14 hari,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Diketahui luas gedung itu berada di pinggir jalan Sepat-Jirapan Kecamatan Masaran. Luas 10 meter x 10 meter dengan menempati lahan 25 meter x 10 meter.

Selama 8-10 tahun dibiarkan kosong sehingga warga sekitar menjulukinya rumah berhantu. Sebagian tembok sudah retak-retak dan di bagian belakang masih ditumbuhi semak belukar.

”Dulu adik saya sempat menempatinya dan hanya bertahan satu bulan. Dia bercerita kalau malam sering ada suara ketukan dari pintu belakang. Ada juga bayangan hitam berseliweran,” papar dia.

Penghuninya adalah Rokim dan Ari warga Dusun Pucuk, kemudian Heri warga Dusun Plosorejo, semuanya warga Desa Sepat. Ketiganya diketahui baru pulang dari luar daerah dan wajib menjalani isolasi mandiri namun diketahui keluyuran sebelum 14 hari terlewati.

”Selama karantina di gedung tua itu, kami siapkan makanan 3 kali sehari dan ditemani Satgas Covid-19 hingga pukul 24.00 WIB. Setelahnya Satgas menutup gedung itu dan mengunci pagar dari luar,” tutur Mulyono.

Baca juga : Kodim 0705 Magelang Bagi Sembako Ke Warga Krincing

Sementara itu, salah satu pengguni karantina Heri Susanto menuturkan belum melihat penampakan-penampakan aneh. Namun dia mengakui lebih enak isolasi dirumah karena dapat melihat anak istrinya.

”Selama disini (gedung karantina) hanya bisa melihat anak dan istri dari depan pintu gerbang di pinggir jalan karena tidak boleh masuk,” jelasnya.

Menurut data Kepala Desa Sepat, jumlah pemudik yang pulang hingga selasa (21/4/2020) sebanyak 247 orang. Jumlah tersebut baru 35% dari total warga Sepat yang merantau ke luar daerah. (Mifta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: