Penjelasan Kementrian Terkait Jasad ABK Indonesia yang Dibuang ke Laut

(beritamagelang.com) SS video viral larung ABK Indonesia di laut Korea

beritamagelang.com, NASIONAL – Beredar video jenazah Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia dibuang ke laut oleh kapal asing milik China pada (6/5). Diketahui kabar tersebut pertama kali disiarkan oleh salah satu media Korea Selatan,

Pemerintah pusat melalui Mentri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo menjelaskan Kami telah berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk menindaklanjuti kasus tersebut

“Mengenai ada dugaan eksploitasi terhadap ABK Indonesia, kita akan telusuri kasus itu,” ujarnya.

Edhy menambahkan, Kementrian Kelautan dan Perikanan telah berkoordinasi dengan Kementrian Luar Negri, Kementrian Perhubungan, Kementrian Tenaga Kerja, Termasuk Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

Baca juga : Dua Pelaku Penganiayaan Remaja di Muntilan Ditembak

Diungkapkan, mengenai pelarungan jenazah ABK di laut atau burial at sea, Mentri Edhy menuturkan, hal itu dimungkinkan dengan berbagai persyaratan. Juga mengacu pada aturan kelautan Organisasi Buruh internasional.

Dalam peraturan ILO “Seafarer’s Service Regulations” dipaparkan, pelarungan jenazah di laut diatur praktiknya dalam pasal 30. Tertulis, jika ada pelaut yang meninggal saat berlayar, kapten kapal harus segera melaporkannya ke keluarga korban dan pemilik kapal.

Selanjutnya, ada empat syarat yang haru dipenuhi untuk melakukan pelarungan di laut. Pertama, kapal berlayar di perairan Internasional. Kedua, ABK telah meninggal lebih dari 24 jam atau kematiannya disebabkan penyakit menular dan jasad telah disterilkan.

Ketiga, kapal tidak mampu menyimpan jenazah karena alasan higienitas atau pelabuhan melarang kapal menyimpan jenazah. Dan keempat, sertifikat kematian telah dikeluarkan oleh dokter kapal (jika ada).

Pelarungan juga tak bisa dilakukan begitu saja. Berdasarkan pasal 30, kapten kapal harus melakukan dengan hormat seperti mengadakan acara upacara kematian.

Tak hanya itu, pelarungan harus dilakukan dengan cara seksama, sehingga jenazah tidak mengambang di atas air. Salah satu cara yang sering digunakan adalah dengan peti atau pemberat lainnya agar jasad tenggelam. Upacara kematian juga harus didokumentasikan dengan rekaman video atau foto.

Mentri Edhy menambahkan, KKP fokus pada dugaan eksploitasi terhadap ABK Indonesia seperti yang dilaporkan media korea, MBC News. Disebutkan, ada beberapa ABK yang mengaku bahwa tempat kerja mereka tidak manusiawi.

Dijelaskan, mereka bekerja selama 18 jam, bahkan salah satu ABK pernah berdiri selama 30 jam. Para ABK Indonesia juga diminta untuk meminum air laut yang telah difilterisasi.

“KKP segera mengirimkan RFMO (Regional Fisheries Management Organization) untuk kemungkinan perusahaan atau kapal mereka diberi sanksi,” ungkapnya.

Menurutnya, terdapat dugaan perusahaan yang mengirimkan ABK Indonesia itu telah melakukan kegiatan yang sama beberapa kali. Perusahaan itu juga terdaftar di Authorized Vessel di RFMO 2 yaitu Western and Central Pasific Fisheries Commision (WCPFC) Inter-American Tropical Tuna Commision (IATTC).

“Indonesia juga sudah mengantongi keanggotaan di WCPFC dan cooperating non member IATTC,” tuturnya.

Mengenai ABK yang selamat dan kini sedang berada di Korea Selatan. Mentri Edhy memastikan akan menemuinya dan pemerintah akan meminta pertanggung jawaban perusahaan yang merekrut dan menempatkan ABK itu. Bentuk pertanggung jawaban itu, antara lain menjamin gaji dibayar sesuai kontrak kerja serta pemulangan ke Indonesia.

“kami akan mengkaji dokumen-dokumen para ABK kita, termasuk kontrak-kontrak yang sudah ditandatangani,”pungkasnya. (fahrur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: